AB Property

AB Property didirikan untuk menjawab kebutuhan pasar terhadap solusi tepat dan terpadu di bidang property.


Senin, 02 April 2012

Gelisah...Pengembang Gulirkan KPR Griya Idaman!

Karena aturan baru Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dinilai memberatkan, pengembang bekerjasama dengan perbankan untuk menggulirkan KPR Griya Idaman. Aturan FLPP baru dengan skema rumah tipe 36 meter persegi seharga Rp 70 juta sulit diwujudkan.

Pada tahun ke sembilan masyarakat bisa mencicil sekitar Rp 900.000.
-- Setyo Maharso

Pembatasan Uang Muka Harusnya pada Harga Jual

Ketua umum DPP Realestat Indonesia (REI) Setyo Maharso menilai, aturan Bank Indonesia (BI) tentang kenaikan uang muka atau down payment (DP) 30 % kredit pemilikan rumah (KPR) tidak adil. Harusnya, aturan loan to value ini membatasi pada harga jual, bukan tipe rumah.

Tipe rumah 70 meter persegi itu berbeda-beda di setiap daerah. Rumah seharga Rp 300 juta - Rp 400 juta di Pulau Jawa berbeda dengan luar Jawa, tergantung skala ekonomi tiap wilayahnya.
-- Setyo Maharso

Papua: Mustahil rumah type 36 seharga Rp70Juta

Pengembang di Papua mengaku paling berat menjalankan skema baru kredit pemilikan rumah dengan Fasilitas Likuditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Pasalnya, masalah perumahan di Papua sangat beragam, mulai harga material bangunan mahal sampai ketersediaan tanah.

Selain material bangunan di Papua itu terkendala masalah tanah. Jangan dikira tanah di Papua itu murah. Di pusat kota harganya mencapai Rp 1 juta per meter persegi.
-- Poerbaraya

Konstruksi Rumah Murah Menpera Diragukan

Para pengembang meragukan konstruksi rumah murah Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz yang diklaim seharga Rp 25 juta. Pengembang menilai, konstruksi rumah murah berdinding beton dengan sistem pracetak ini akan sulit direnovasi.

Rumah murah Menpera itu konstruksinya berbeda dengan cara konvensional, sehingga akan sulit ketika pemilik rumah hendak merenovasinya. Selain sulit, biaya untuk renovasi juga tinggi.
-- Setyo Maharso

BCA patok suku bunga KPR 9,5%

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menetapkan suku bunga kredit dasar (prime lending rate) untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) sebesar 9,5 persen per 31 Maret 2012.

Hal tersebut disampaikan manajemen BCA dalam keterangan resmi yang dipublikasikan, di Jakarta, Senin (2/4/2012).

Dengan catatan, suku bunga dasar kredit (SBDK) ini belum memperhitungkan komponen premi risiko yang besarnya tergantung dari penilaian bank terhadap risiko masing-masing debitur. Maka demikian, besarnya suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sama dengan SBDK.

Palembang: BRI Syariah targetkan Rp36M untuk KPR

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) (Pesero) Tbk cabang induk Palembang menargetkan realisasi pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp35 miliar dalam waktu tiga bulan. Target ini didasari oleh bergeloranya perumahan di Kota Empek-Empek, selepas adanya hajatan SEA Games.

Hal ini dikemukakan Consumer Marketing Manager PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah Kantor Cabang Induk (KCI) Palembang Afandi Abdullah. Afandi menegaskan, pihaknya sangat optimistis target realisasi itu akan tercapai, mengingat kebutuhan rumah hunian di kota Palembang.

BBM belum naik, besi sudah naik Rp200/kg

Dampak rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM), tidak hanya ditandai dengan demonstrasi besar-besaran. Di sisi lain, wacana yang diusung pemerintahan SBY ini juga sudah mendongkrak harga-harga material bangunan. “Harga BBM belum naik, tetapi harga material sudah naik duluan. Selain harga pasir dan semen, harga besi pun sudah naik Rp200 per kilogramnya,” jelas Jimmy Salim, Direktur U Residence Karawaci, Kamis (29/3) lalu.

Kenaikan harga material tentu berpengaruh pada harga jual properti. Sebagian pihak tentu akan menangguhkan niatnya membeli properti. Namun, Jimmy berani mengatakan bahwa sekarang adalah saat yang baik untuk berinvestasi properti. “Harga properti di Indonesia masih lebih rendah dibanding dengan negara tetangga. Saya memprediksi dua tahun lagi harga properti bakal naik signifikan. Dan saat itu, sudah telat jika ingin investasi,” tegasnya.

Makassar: Raimond Arfandy Dukung KPR Griya Idaman

Real Estate Indonesia (REI) Sulsel siap meluncurkan produk fasilitas Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Griya Idaman. KPR Griya Idaman diluncurkan untuk menyiasati sulitnya membangun rumah dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dari pemerintah.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD REI) Sulsel Raimond Arfandy mengatakan, rumah FLPP yang diluncurkan pemerintah, dari segi harga sulit direalisasikan oleh pengembang. “Sebab pemerintah mewajibkan rumah FLPP nilai jualnya harus Rp70 juta,”ujar Raimond di Makassar,kemarin. Sedangkan biaya produksi rumah tipe 36 yang diharuskan dalam program tersebut saat ini sudahmencapaiRp70jutalebih. “Makanya REI menawarkan KPR Griya Idaman,”katanya.

REI: DP KPR 30 % Tidak Adil

Ketentuan down payment (DP) alias uang muka 30% KPR pada industri perbankan dianggap pengembang tidak adil. Alasan pencegahan bubble dengan pengetatan aturan uang muka oleh Bank Indonesia (BI) pun dianggap tidak masuk akal. Industri properti Indonesia jauh dari bubble dari format pembiayaan rumah tidak kembali diagunkan seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Ketua Umum REI, Setyo Maharso menilai, batasan tipe 70m2 yang terkena aturan DP 30% dianggap kurang tepat. Pasalnya ini berlaku nasional, sedangkan skala ekonomi tiap daerah tentu berbeda.

REI Sumsel: FLPP Versi Terbaru Mustahil Dilaksanakan

Pengembang daerah menyuarakan penolakan mereka akan program FLPP terbaru bentukan Menpera Djan Faridz. Aturan batas minimal tipe 36m2 seharga Rp 70 juta tak masuk hitungan bisnis, selain masih banyak masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) membutuhkan rumah tanpa peduli luas bangunan.

Ketua DPD REI Sumatera Selatan, yang juga koordinator regional I (Sumatera), Moerod, mengatakan FLPP format Djan Faridz menyulitkan. Pengembang tidak dapat merealisasikan rumah tipe 36m2 seharga Rp 70 juta.

REI: Rumah Murah Biaya Renovasinya Mahal

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso, menilai teknologi rumah cetak beton menyulitkan masyarakat dalam renovasi kelak. Beda dengan dinding bata susun yang diterapkan selama ini.

"Rumah beton cetak, kalau kembangkan (renovasi) susah. Karena konstruksinya beda. Kalau renovasi biayanya jadi lebih tinggi karena konstruksinya solid. Ini yang harus diperhatikan," kata Setyo di sela-sela ulang tahun REI ke-40 di Manado, Sabtu (31/3/2012).

Seperti diketahui, teknologi bangun rumah beton adalah gagasan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz. Terdapat rumah contoh yang berdiri Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) di Jalan Raden Fatah, Kebayoran Baru, Jakarta.

Pengembang 'Ujung' Indonesia Masih Sulit Akses Bahan Bangunan

Ambon - Pemerataan distribusi bahan bangunan belum sepenuhnya terealisasi. Wilayah-wilayah ujung Indonesia menghadapi kesulitan suplai masing-masing.

Seperti yang dialami Ketua DPD Provinsi Papua dan Papua Barat, SM. Poerbaraya. Ia mengaku kesulitan mengakses semen. Harga termurah wilayah timur Indonesia mencapai Rp 90 ribu per sak, dan itu terjadi pada wilayah Jayapura. Bahkan yang terbesar mencapai Rp 1,2 juta per sak.

"Papua itu utamanya semen. Jayapura Rp 90 ribu. Lebih jauh, Wamena yang dapat diakses 45 menit dari Jayapura harga Rp 500 ribu per sak. Kalau di pegunungan, pada puncak Jaya (Jayawijaya) mencapai Rp 1,2 juta per sak. Kalau mau pembanding Solo (pulau Jawa) harganya Rp 42 ribu," kata Poerbaraya di sela-sela ulang tahun ke-40 REI di Ambon, Sabtu (31/3/2012).

Usulan Rumah Bebas Pajak akan Bervariasi

Kementerian Perumahan rakyat (Kemenpera) telah setuju perubahan batas harga rumah bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dari yang berlaku saat ini Rp 70 juta per unit. Namun rumah bebas berlaku variatif, mengingat daya beli masyarakat pada tiap daerah tentu berbeda.

Kenaikan rumah bebas PPn merupakan usulan Real Estate Indonesia (REI). Selanjutnya Menpera Djan Faridz mengajukan hal ini kepada Menteri Keuangan. "Rumah bebas PPn Menpera telah setuju dan tengah upayakan," kata Ketua Umum REI Setyo Maharso di Manado, Sabtu (31/3/2012).

BNI siapkan "budget" Rp 26 Triliun untuk KPR di tahun 2012

Bisnis pembiayaan perumahan dianggap PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) masih menjanjikan. Pertumbuhan KPR perseroan akan kembali menggeliat 27%-28% tahun 2012.

Direktur Utama BNI Gatot M Suwond menerangkan, perseroan merupakan pemain baru dalam bisnis KPR. Ke depan, bisnis ini akan terus berkembang dengan pengembangan sistem dan SDM pada seluruh wilayah.

"Kami ini pemain baru. Namun bisnis ini masih sangat baik. Dimana portofolio kami sampai akhir tahun lalu mencapai Rp 18 triliun, terjadi penumbuhan 50% dibandingkan sebelumnya," kata Gatot di sela-sela gala dinner perayaan ulang tahun ke-40 REI, di Manado, Sabtu (31/3/2012) malam.

Suku Bunga KPR Sejak Januari-Maret 2012

Bank Indonesia (BI) kembali merilis daftar suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan teranyar. Rata-rata suku bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) berdasarkan data terakhir mencapai 10,62%.

Pengamat perbankan sekaligus Komisaris PT Bank Mandiri Tbk, Krisna Wijaya mengatakan suku bunga KPR perbankan memang terendah sejak merdeka. Namun perbankan perlu tetap menjalankan prinsip kehati-hatian.

Pertumbuhan Pasar Properti Bekas Akan Terpangkas

JAKARTA. Aturan Bank Indonesia (BI) terkait pembatasan down payment (DP) untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) bukan hanya mempengaruhi penjualan rumah baru (primary) saja. Pembatasan DP sebesar 30% dari harga rumah itu juga mempengaruhi bisnis rumah bekas alias secondary.

Lebih sulit lagi, pembayaran DP untuk rumah secondary, sulit untuk diakali oleh pembeli. Hal ini disampaikan oleh Frank Hasan Pamudji, Senior Manager Research Knight kepada KONTAN akhir pekan lalu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cari Properti

Custom Search

Ir. Andreas Siregar

Konsultan Properti

Pendiri AB Property

Tenaga Pengajar pada

PANANGIAN SCHOOL OF PROPERTY

Follow Twitter @penilaipublik untuk Tips & Konsultasi Properti

Aditya Budi Setyawan

Pendiri AB Property (Partner) ✉absetyawanwassuccess@live.com

☎ 0878787 702 99

085 7755 1819 5

0852 2120 3653

021 444 300 33 (flexi)

BB : 31 789 C84

Facebook Twitter MySpace Blogger Google Talk absetyawan Y! messenger adityabsetyawan
My QR VCard

Cari