AB Property

AB Property didirikan untuk menjawab kebutuhan pasar terhadap solusi tepat dan terpadu di bidang property.


Jumat, 18 Oktober 2013

Panangian Simanungkalit: 2014 Pertumbuhan Properti 10%, Tahun Ini Sekitar 15%

Properti apartemen diprediksi masih akan menjadi pilihan utama pasar properti di tahun depan.
Meski secara umum diperkirakan melambat, permintaan dan penjualan properti pada 2014 masih akan tumbuh.
"Bakal terjadi pelambatan, pertumbuhan properti hanya naik 10%, tahun ini kan sekitar 15%," kata pengamat properti, Panangian Simanungkalit.
Dia mengungkapkan properti jenis apartemen akan menjadi idola bagi para pencari hunian di tahun politk tersebut. Selain itu, town house, ruko dan rumah juga masih akan diminati.
“Apartemen masih jadi yang paling dicari. Lagi tren".
Sementara untuk segmentasi harga, properti dengan harga Rp1 miliar merupakan yang paling prospektif.
“Paling dicari Rp1 miliar ke bawah, terutama Rp600 juta ke bawah,” tuturnya.

Sumber: Bisnis.com

Sertifikat Tanah Hilang? Ini Solusinya.

Sertifikat tanah ibarat jantungnya dari produk properti seperti tanah. Dokumen yang satu ini sebagai alat bukti bagi pemegang hak atas tanah. Lantas bagaimana jika 'jantungnya' itu entah karena sebab apa hilang atau rusak.

Apakah lantas hak Anda sebagai pemilik tanah akan ikut-ikutan hilang? Jawabannya tentu belum hilang sepenuhnya, pasalnya hak Anda sebagai pemilik tanah yang sah tidak akan hilang jika Anda buru-buru mengurusnya. Nah, terhadap sertifikat tanah yang hilang, berikut ini ada cara mengurus sertifikat tanah yang hilang:
  • Merujuklah ke kantor pertanahan setempat guna melakukan permohonan pergantian sertifikat yang hilang. Kantor pertanahan lantas akan membuatkan Anda sertifikat pengganti. Namun patut dicatat permohonan sertifikat pengganti hanya dapat dilakukan oleh pihak yang namanya tercantum sebagai pemegang hak dalam dalam buku tanah yang ada di kantor pertanahan.
  • Jangan lupa sewaktu mengajukan permohonan sertifikat pengganti, Anda perlu melampirkan surat pernyataan dari pihak yang mengajukan, bahwa sertifikat atas tanah tersebut benar hilang. Jangan lupa, selain pernyataan dari pihak yang mengajukan, diperlukan juga surat laporan kehilangan dari kepolisian.
  • Jika pemegang hak tercantum di buku tanah sudah meninggal dunia, maka pengajuan permohonan itu dapat dilakukan oleh ahli warisnya. Pengajuan tersebut harus dilengkapi dokumen-dokumen pendukung sah, misalnya Surat Keterangan Kematian dari pemegang hak dan Surat Keterangan Ahli Waris dari para ahli waris.
  • Kantor Pertanahan terlebih dahulu akan melakukan pemeriksaan dan pengumuman sebelum menerbitkannya sertifikat pengganti. Pemeriksaan meliputi keabsahan dari pihak yang mengajukan permohonan dengan cara meneliti dokumen-dokumen pendukung yang dilampirkan. Penerbitan sertifikat pengganti baru dapat dilakukan setelah kantor pertanahan melakukan pengumuman.
  • Namun, apabila dalam jangka waktu 30 hari sejak pengumuman tidak ada pihak yang mengajukan keberatan atau ada pihak mengajukan keberatan namun keberatannya tidak beralasan, maka kantor pertanahan akan menerbitkan sertifikat pengganti.

sumber:  detik

Permintaan Perkantoran di Jakarta Mulai Melambat

Krisis ekonomi dan sempat berhentinya pemerintahan Amerika Serikat (AS) berdampak pada menurunnya permintaan properti di Jakarta.

Head of Research Jones Lang LaSalle Anton Sutorus mengatakan krisis ekonomi, shutdown pemerintahan Amerika, melemahnya rupiah dan beberapa keputusan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan berdampak pada menurunnya tingkat permintaan pasar perkantoran di Jakarta.

"Berdasarkan hasil survei pasar properti di Jakarta yang kami lakukan baru-baru ini, terjadi perlambatan pada permintaan properti di Jakarta," kata Anton kepada wartawan di Kantor Jones Lang LaSalle di SCBD, Kamis (17/10/2013).

Anton mencontohkan seperti penyerapan ruang kantor di wilayah segitiga segi emas (CBD) di triwulan III mengalami penurunan dari tahun lalu mencapai 93.000 meter per segi, sampai saat ini hanya mencapai 61.000 meter per segi.

"Namun tingkat hunian ruang kantor (okupansi) masih tetap tinggi, bahkan naik tipis ke 93%, ini karena tidak adanya penambahan pasokan kantor baru pada kuartal III tahun ini," ucapnya.

Bahkan akibat melemahnya rupiah dalam beberapa pekan terakhir ini berdampak pada naiknya harga ruang sewa kantor dan tenan.

"Cukup banyak perkantoran seperti di kawasan TB Simatupang, sewa kantornya berdasarkan kurs dolar, sehingga ketika rupiah saat ini melemah, harga sewanya naik signifikan," ungkap Aton.

Saat ini dikawasan CBD suplai perkantoran yang ada jumlahya mencapai 4,7 juta meter per segi dengan okupansi 92%.

"Sampai akhir tahun akan ada tambahan 1,7 juta m2, dengan harga sewa Rp 228.100 per meter per segi, dengan base rent Rp 158.200 dan service charge Rp 69.900 per meter per segi," ungkapnya.

Selain menyebabkan penurunan pasar properti dan meningkatkan harga sewa akibat dampak-dampak tersebut, kondisi pada kuartal III 2013 ini juga berdampak pada ditundanya rencana ekspansi perusahaan-perusahaan.

"Akibat antisipasi perlambatan ekonomi dan prospek iklim investasi ke depan, perusahan-perusahaan pengguna gedung kantor komersial juga menahan rencana ekspansi mereka. Ini terlihat dari menurunnya volume transaksi penyewaan ruang kantor di daerah CBD," katanya.

Penjualan Kondominium Terganjal Aturan LTV dari BI

Bank Indonesia (BI) telah menerbitkan aturan pembatasan besaran kredit untuk rumah kedua dan ketiga atau loan to value (LTV), hal ini akan berdampak pada menurunnya penjualan di sektor kondominium.

"Akibat kebijakan LTV (Loan to value ratio) dan kenaikan suku bunga berpengaruh pada melambatnya penjualan kondominium di paruh kedua tahun ini," kata Head of Residential Jones Lang LaSalle Luke Rowe pada kesempatan yang sama.

Luke mengatakan penjualan unit kondominium pada Juli-September 2013 di pasar primer mencapai 2.390 unit atau hampir separuh penjualan pada triwulan sebelumnya.

"Namun walau diprediksi penjualan kondominium di paruh kedua melambat, akan tetapi jumlah total penjualan kondominium tahun ini kami prediksi akan mencapai rekor baru atau melampaui rekor penjualan pada 2012 lalu yang mencapai 12.700 unit. Pasalnya sampai September saja penjualan kondominium telah mencapai 11.000 unit," ungkapnya.

Ditambahkan Head of Market Jones Lang LaSalle Angela Wibawa, aturan LTV dari BI memang berpengaruh pada penjualan kondominium.

"Pengaruhnya tentu pada investasi dibidang properti salah satunya kondominium. Karena ada batasan kredit untuk investasi kondominium masyarakat untuk kondominium kedua, ketiga dan seterusnya. Sedangkan untuk yang beli pertamakali tidak ada masalah," tutupnya.

Sumber: detik

Tanah di Senopati Rp 30 juta/m2 Tahun 2007, Sekarang Rp 200 juta/m2

Jakarta - Tanah di DKI Jakarta khususnya yang berada di wilayah CBD atau segi tiga emas tiap tahun harganya terus meningkat.

Head of Markets Jones Lang LaSalle Angela Wibawa mengatakan harga tanah tidak pernah turun, apalagi jika tanah tersebut berada di wilayah CBD meningkatnya cukup tinggi.

"Harga tanah itu terus naik, tidak pernah turun, walau krisis ekonomi sekalipun, apalagi tanahnya berada di wilayah CBD," kata Angela ditemui di Kantor Jones Lang LaSalle, SCBD, Kamis (17/10/2013).

Angela mengungkapkan seperti di Jalan Senopati harga tanah dikawasan tersebut pada 2007 harganya masih Rp 30 juta per meter persegi.

"Sekarang ini kemarin ada yang transaksi di Senopati harga tanah di jual Rp 200 juta per meter persegi, tinggi sekali, bisa dibayangkan harga tanahnya 5 tahun kedepan," ungkapnya.

Angela menambahkan saat ini dalam dua tahun terakhir terjadi kenaikan harga tanah dan bangunan yang cukup signifikan di beberapa kawasan.

"Yang dalam dua tahun ini harga tanahnya naik tinggi itu seperti di Jakarta Timur, Bekasi, di beberapa kawasan Jakarta Selatan seperti disekitar TB Simatupang dan lainnya," katanya.

Bahkan saat ini diwilayah Sudirman untuk lahan perkantoran harganya cukup tinggi. "Sekarang untuk harga kantor di Sudirman, Senopati dan dikawasan CBD atau kawasan segitiga emas harganya Rp 100-200 juta per meter persegi," ucapnya.
(rrd/dru)
 
sumber: detik

5 Sifat-Sifat Dasar Properti

Yang dimaksud dengan sifat-sifat dasar properti adalah sifat-sifat tanah dan bangunan, dilihat dari segi fisik. Sifat-sifat dasar properti hampir tidak memiliki perbedaan antara satu kawasan dengan kawasan lain, atau dengan kata lain, sifat-sifat dasar properti berlaku secara universal. Artinya, sifat-sifat dasar tanah dan bangunan di Amerika Serikat, China, dan Indonesia tidak berbeda satu sama lain. Bagi Anda sebagai investor, baik pemula maupun yang telah berpengalaman, sangat perlu memahami sifat-sifat dasar ini, terutama untuk mengembangkan pengetahuan dalam mengelola investasi properti. Pasalnya, makin dalam pengetahuan Anda tentang sifat-sifat dasar properti, makin mampu pula Anda mengelola dan mengembangkan investasi properti itu. Di samping itu, dengan mengetahui sifat-sifat dasar properti, Anda juga dapat menghindari risiko-risiko yang mungkin muncul setelah melakukan investasi.

1. TIDAK DAPAT BERGERAK (IMMOBILITY)
Secara fisik, properti adalah tanah. Maka meskipun sebidang tanah dibatasi oleh tanah lain, di sebelahnya – bisa berupa kebun, jalan, perumahan dan lain-lain – namun lokasi tanah tersebut sepanjang masa akan tetap berada di sana. Jika dibandingkan dengan investasi lain, tanah memiliki keunikan tersendiri, karena tidak bisa bergerak dan tidak bisa dicuri. Sehingga strategis atau tidaknya sebuah lokasi, sangat bergantung pada lingkungan dimana lokasi tersebut berada. Dan karena properti tidak bergerak, maka faktor yang menggerakkan nilai, harga, prospek, dan masa depan properti adalah kegiatan manusia, budaya, dan jumlah uang yang beredar di lokasi tersebut. Jika lingkungan di sekitar lokasi properti penuh dengan kegiatan ekonomi dan komersial, maka properti tersebut akan sangat prospektif, produktif, dan terus naik harganya. Oleh karena itu, pengamatan terhadap perkembangan lingkungan sekitar lokasi properti berada, sangat menentukan prospek investasi properti. Pengetahuan terhadap perkembangan lingkungan sekitar lokasi sangat penting diketahui oleh seorang investor sebelum melakukan investasi. Semakin ramai sebuah lokasi dalam kegiatan perdagangan dan komersial, akan semakin tinggi harga tanah dan properti di lokasi tersebut. Selain itu, kenaikan nilai tanah dan properti pun akan berkelanjutan.

2. BERSIFAT SETEMPAT (LOCALITY)
Karena bentuk produk properti adalah tanah dan bangunan yang tak dapat bergerak, tentu saja membuat properti menjadi bersifat lokal. Artinya, sebuah produk properti terikat dengan lokasi dimana properti itu berada. Contoh, tren arsitektur di sebuah kawasan berbeda dengan di kawasan lain. Misalnya rumah-rumah di bilangan Menteng yang mayoritas dibangun di masa kolonial Belanda berbeda dengan rumah-rumah di Kelapa Gading yang berupa petak-petak kecil. Contoh lain, rumah di dataran tinggi nan sejuk seperti di Puncak, cenderung memiliki pintu dan jendela berukuran lebih kecil dibanding rumah-rumah yang ada di dataran rendah, seperti di Tanjung Priok, yang berhawa panas. Properti di lokasi tertentu, dengan segala corak lingkungannya, akan berbeda dengan properti yang ada di kawasan lain. Sebuah konsep properti bisa saja sukses di lokasi tertentu, tetapi belum tentu sukses di lokasi lain. Karena dua lokasi yang berbeda, pasti memiliki akses, fasilitas, infrastruktur, utilitas, ciri budaya, tingkat pendidikan dan gaya hidup masyarakat yang berbeda pula. Misalnya kawasan Kelapa Gading.

3. BERAGAM (HETEROGENITY)
Sebidang tanah di sebuah lokasi tertentu selalu memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi posisi, ukuran, maupun ketinggian tanah. Bahkan, dua bidang tanah yang sama ukurannya di kawasan perumahan (kavling), bisa berbeda letak dan peruntungannya jika dilihat dari kacamata feng shui. Artinya, setiap lokasi tanah sangat unik, karena tidak ada dua bidang tanah yang sama di muka bumi ini. Harga sebuah properti juga bisa ditentukan oleh kepercayaan sekelompok orang. Sebagai contoh, penduduk keturunan Tionghoa akan menghindari kavling atau rumah dengan nomor 4. Sebaliknya mereka cenderung memperebutkan kavling atau rumah bernomor 8, meskipun unit bernomor 8 dan 4, secara ukuran, kualitas, dan spesifikasi sama persis dengan unit-unit lain yang ada di blok tersebut. Hal serupa juga terjadi di gedung bertingkat, dimana orang umumnya menghindari lantai 4 dan 13. Angka 4 dianggap membawa sial karena dilafalkan “se” atau “si” yang artinya “mati”, sementara angka 13 oleh sebagian kalangan masih dianggap sebagai angka sial. Untuk mengantisipasi hal ini, pihak pengembang atau pengelola gedung biasanya mengubah nomor lantai 4 menjadi 3A, sementara lantai 13 diubah menjadi 12A. jadi sebagai investor, seyogianya Anda mempertimbangkan hal tersebut apabila ingin berinvestasi properti di lokasi yang memiliki kepercayaan terhadap angka-angka tertentu.

4. DAYA TAHAN LAMA (DURABILITY)
Sifat durability atau sifat daya tahan lama properti membuatnya menjadi komoditas investasi yang bersifat jangka panjang (long term investment). Misalnya, sebuah bangunan dengan kualitas sedang bisa bertahan hingga 100 tahun, sementara tanah bisa berusia lebih lama lagi, bahkan hingga berabad-abad, kecuali jika terkena bencana alam seperti gempa, air bah, atau tanah longsor. Tetapi dari banyak kejadian, setelah bencana alam terjadi, biasanya korban akan kembali menempati bekas lokasi tempat tinggal mereka. Contohnya, korban gempa di Yogyakarta yang kembali membangun rumah di atas puing-puing rumah yang hancur. Faktor daya tahan ini menyebabkan investasi properti bersifat real (nyata) dan solid (umurnya sangat lama), sehingga bisa diwariskan secara turun temurun. Walaupun secara teori, umur bangunan hanya berkisar 20 tahun, tetapi dengan perawatan yang bagus dan kualitas bahan baku yang baik, sebuah bangunan terkadang tidak perlu direnovasi dalam jangka waktu yang lama. Sebagai contoh, bangunan-bangunan di Kota Tua Jakarta yang telah berumur lebih dari 300 tahun, hingga kini hanya memerlukan sedikit perbaikan, sementara struktur bangunan masih sangat bagus.

5. KELANGKAAN (SCARCITY)
Properti yang melekat di permukaan bumi, seperti tanah merupakan barang yang bersifat langka (scarce). Pasalnya, jumlah manusia yang memerlukan tanah untuk kebutuhan tempat tinggal, berusaha, atau entertainment kian bertambah dari waktu ke waktu, sementara luas tanah relatif tetap (fixed). Karena permintaan terhadap tanah terus meningkat, sementara persediaan kian terbatas, tidak mengherankan jika nilai sebidang tanah cenderung akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Kelangkaan adalah salah satu sifat ekonomi yang khas dari properti, karena jumlahnya relatif tidak bisa ditambah. Walaupun di sebuah kawasan dilakukan reklamasi dimana kawasan tersebut terjadi penambahan tanah tetapi, disisi lain, ada bagian bumi di lain tempat yang tergerus atau berkurang. Sifat kelangkaan ini akan lebih terasa pada lokasi-lokasi di pusat kota, seperti di pusat kegiatan keuangan di kawasan Thamrin dan Sudirman, Jakarta. Lokasi-lokasi seperti ini umumnya hanya memiliki sedikit space, tetapi menjadi pusat kegiatan jutaan orang. Dengan suplai tetap, tetapi demand terus berkembang pesat, tentu membuat lokasi-lokasi di tengah kota akan selalu lebih mahal dibanding lokasi-lokasi di pinggir kota. Penambahan ruang yang bisa dilakukan di kota hanya mengubah kawasan kumuh menjadi pusat belanja, menambah jumlah lantai gedung, atau memperkecil ruang kantor. Harga ruang properti, terutama ruang kantor, di kota-kota besar Asia, bahkan telah mencapai nilai yang mencengangkan. Sebagai investor, Anda tentu saja perlu mengetahui lokasi-lokasi yang memiliki prospek kenaikan harga yang berkelanjutan hingga 20 tahun ke depan. Walaupun harga properti tergolong mahal ketika dibeli, tetapi dengan kecenderungan pertumbuhan harga yang terus menerus, selama itu pula kenaikan harga tidak bisa dibendung.

sumber : http://www.panangianschool.com

Perbedaan Investasi dan Spekulasi

Kamus Webster mendefinisikan spekulasi sebagai “tindakan dalam bisnis tak lazim, berkaitan dengan pencetakan profit dari fluktuasi harga. Atau memasuki suatu bisnis yang melibatkan risiko-risiko yang tidak biasa, guna beroleh kesempatan meraup keuntungan yang luar biasa besar”. Perbedaan yang mendasar antara investasi dengan spekulasi adalah : dalam berinvestasi, kita menanamkan sejumlah uang dalam membuat perhitungan-perhitungan untuk mengharapkan keuntungan di masa depan yang tak pasti. Intinya, dalam investasi kita telah membuat perhitungan-perhitungan untuk menghadapi risiko yang bakal terjadi. 

Sebaliknya, spekulasi pada umumnya mengabaikan faktor risiko yang mungkin muncul. Contohnya, Anda melakukan spekulasi dengan membeli sebuah rumah yang sertifikatnya hilang. Rumah seperti ini pasti harganya lebih murah, namun bila sertifikat tersebut tidak ditemukan, maka nilai investasi tersebut bisa hilang. Jadi, investasi lebih terukur dibanding spekulasi. Biasanya, keuntungan yang diharapkan dari spekulasi lebih tinggi dibanding keuntungan yang diharapkan dari investasi. Hal ini dikenal dengan istilah investasi high risk, high return.

Bila seorang investor berupaya mengukur parameter risiko dan keuntungan investasi properti atas dasar analisis, maka hal tersebut merupakan tindakan investasi. Sebaliknya, bila seorang investor tidak mengestimasi risiko, sementara metode analisis yang digunakan adalah dugaan, naluri, dan intuisi, maka dapat dipastikan tindakan tersebut adalah bersifat spekulatif.

sumber : http://www.panangianschool.com

Investor Properti Profesional

Anda akan lebih mudah mencapai kesuksesan berinvestasi di properti. Ingatlah, investasi properti telah berakhir sebagai “permainan”. Intinya, investasi properti merupakan pekerjaan yang aktif, serius, ilmiah, dan ruwet. Investasi properti adalah bisnis yang dapat memberikan imbalan besar, bagi mereka yang bersedia mendedikasikan diri sepenuhnya mengelola investasi properti itu. Bahkan belakangan ini, investasi properti telah menarik sekelompok orang yang memiliki pendidikan, pengalaman, dan ketaatan akan standar etis yang tinggi dalam berbisnis. Oleh sebab itu, pengetahuan dasar tentang properti saja, tidaklah cukup. Seorang investor properti profesional harus memiliki beberapa persyaratan, yang antara lain sebagai berikut :
  • Mampu mengambil risiko investasi namun selalu penuh perhitungan. Saat terjadi penurunan pasar, mereka tetap berada di jalurnya.
  • Mampu menjalankan rencana investasi properti dengan ekspektasi kekayaan jangka panjang yang realistis, namun berdasarkan prediksi pasar.
  • Pantang menyerah untuk berusaha mencari peluang-peluang investasi terbaik dalam setiap gelombang pasar properti.
Semua faktor ini dapat dijabarkan dalam satu istilah yakni : komitmen. Jadi, Anda harus membuat komitmen pribadi, saat memulai investasi properti. Jangan menerima prestasi tingkat pengembalian investasi yang sedang-sedang saja, tetapi selalu harus berusaha untuk mencari peluang investasi properti dengan tingkat pengembalian yang tertinggi pada setiap kesempatan. Sehingga konsistensi dan komitmen Anda dalam berinvestasi di properti, cepat atau lambat akan mengubah mindset Anda untuk meningkatkan kemampuan Anda mencapai kebebasan finansial (financial freedom) melalui investasi properti.

sumber: http://www.panangianschool.com

Investor Properti Tradisional

Secara tradisional sudah sejak dulu orang-orang yang memiliki kelebihan uang di Indonesia, menanamkan kelebihan uang itu dalam properti. Hanya waktu itu, selain instrumennya masih terbatas pada rumah dan atau kavling tanah, umumnya mereka membelinya semata untuk menyimpan uang, sekaligus untuk menghindari nilai uang mereka dari gerusan inflasi. Jadi, bukan karena pertimbangan-pertimbangan yang lebih canggih menyangkut prospek investasi, pembiayaan, dan lain sebagainya. Belakangan ini, ketika boom sektor properti sepuluh tahun terakhir terjadi sejak tahun 2000, banyak investor tradisional yang terbawa arus gelombang spekulasi “boom” properti. Mereka beranggapan properti apa pun yang mereka beli, atau di mana pun lokasinya, harganya akan naik setelah masa itu.
Sebaliknya, para investor tradisional umumnya tidak didukung dengan pengetahuan praktis tentang properti dan strategi investasi yang memadai. Walaupun di antara mereka banyak yang sudah lama menjadi investor properti, namun tetap saja mereka merasa belum sukses. Para investor tradisional itu hanya berkutat di sekitar transaksi jual beli. Analisis pasar, kalkulasi kenaikan nilai properti dan analisis investasi, seringkali dihindari, atau kurang diminati. Begitu pula analisis investasi properti yang bersifat jangka panjang, kurang dikedepankan. Sebagian besar mereka mengharapkan apresiasi nilai properti dalam jangka panjang, tapi tidak dibekali dengan pengetahuan tentang properti yang bersifat praktis dan teknik-teknik investasi yang memadai.
Alhasil, kebanyakan investor properti itu, sebelum melakukan investasi properti gagal mengkalkulasi salah satu dari sumber pencetak kekayaan terbesar, yaitu prediksi terhadap apresiasi nilai properti. Mereka pun sering merasa hal itu bukanlah suatu bencana, dengan alasan nilai-nilai properti selalu naik dalam jangka panjang. Mereka lupa satu hal yaitu begitu masa resesi ekonomi tiba, seperti saat sekarang ini, banyak properti yang mereka beli dulu hingga saat sekarang, masih kosong melompong. Apresiasi nilainya pun tidak berarti, atau bahkan nilai properti mereka itu malah ada yang menurun. Karena itu pula sampai sekarang masih terlalu sedikit investor properti yang berhasil menjadi miliarder dari investasi propertinya.
 
sumber: http://www.panangianschool.com

Bisnis Properti Diperkirakan Mulai Lesu di 2014

Jakarta - Pertumbuhan bisnis properti di Indonesia pada 2014 diperkirakan bakal melambat terutama pada produk apartemen dan perkantoran strata title (dijual bukan disewakan) . Sehingga bakal banyaknya pasokan properti di tahun depan namun tidak dibarengi dengan permintaan.

"Pertumbuhan properti akan melambat. Secara umum pertumbuhan harga jual dan sewa agak melambat, pasokan jauh lebih banyak. Suplai lebih banyak dari demand. Para pengembang kan di tahun 2012 itu banyak melakukan pembangunan. Nah itu kan biasanya baru beroperasi di 2014. Sementara tahun ini para investor sudah banyak membeli properti sehingga tahun depan banyak properti jadi, banyak pasokan tapi nggak diikuti permintaan," kata Kepala Riset Cushman & Wakefield Arief Rahardjo saat konferensi pers di kantornya, Gedung BEI, Jakarta, Kamis (17/10/2013).

Ia menjelaskan, melambatnya sektor properti terutama akan terjadi di jenis apartemen dan kondominium, termasuk perkantoran.

"Misal strata office tahun ini pertumbuhannya 27%, nanti 2014 perkiraan hanya akan tumbuh 20%. Biasanya cenderung properti yang pakai sistem jual seperti apartemen dan kondominium akan cepet berpengaruh," ujarnya.

Isu melemahnya ekonomi makro Indonesia dan luar negeri khususnya China dan Amerika Serikat berdampak pada pengembang properti dan konsumen. Mereka lebih memilih untuk menunggu saat yang tepat untuk mengambil keputusan terutama untuk sektor gedung perkantoran strata title, kondominium, dan perumahan.

"Tapi kemungkinan penyewa gedung-gedung perkantoran akan mendapat beberapa keringanan karena harga sewa gedung perkantoran terus meningkat rata-rata sebesar 80% selama 3 tahun terakhir," kata dia.

Hal senada pernah disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda. Ia mengatakan, ada dua masalah fundamental dalam bisnis properti tahun depan. Pertama, 2013-2014 merupakan periode siklus properti yang sedang melambat setelah booming properti dua tahun lalu. Kedua, kondisi tersebut diperparah dengan perekonomian yang melemah baik di dalam negeri maupun global.



(drk/hen)

sumber: detik

Meski Mahal, Mengapa Orang Rela Antre Beli Rumah di Serpong?

Jakarta - Fenomena antrean konsumen membeli rumah di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten bukan tanpa alasan. Selain ditopang oleh infrastruktur yang lengkap, kawasan ini juga mengalami kenaikan harga properti yang tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Jabodetabek.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan sejak beberapa tahun terakhir kenaikan harga rumah di Serpong sangat fantastis. Bahkan beberapa tahun lalu harga tanah/rumah di Serpong sempat naik 50%-60% per tahun. Khusus tahun ini, memang ada perlambatan siklus properti dan kebijakan pembatasan dari Bank Indonesia.

"Yang saya pantau untuk Serpong secara keseluruhan dulu naiknya 50%-60% (per tahun), tahun 2013 ini saja kenaikannya 30%-32%, kenaikan harga rumah di Serpong memang masih tinggi," katanya kepada detikFinance, Rabu (9/10/2013)

Ia menuturkan secara umum harga rumah di Serpong sudah over value artinya harga yang ditawarkan sudah melampaui dari harga seharusnya. Namun karena Serpong dilengkapi infrastruktur yang lengkap seperti jalan tol, jalur kereta api, pusat perkantoran, ritel, rumah sakit, dan sebagainya membuat kawasan ini sangat seksi di mata konsumen.

Ia menyebutkan di zona utama kawasan Serpong-Kota Tangerang dikuasai oleh beberapa pengembang besar seperti Sinarmas Land dengan Bumi Serpong Damai (BSD), Summarecon dan Paramount, Modernland, Alam Sutera dan Lippo Karawaci. Para konsumen yang membeli di kawasan ini beragam mulai dari pengguna langsung hingga investor.

"Pembeli itu terdiri dari end user, dan investor, mereka mengharapkan harganya nanti bisa lebih tinggi," katanya.
(hen/dru)
 
sumber: detik

Akali Aturan DP Minimum 30%, Pengembang di Serpong Jual Rumah Lebih Mungil

Jakarta - Pasca aturan uang muka (DP) minimal 30% untuk rumah-rumah besar, kalangan pengembang di Serpong, Tangerang Selatan mengakali dengan menjual rumah lebih mungil. Mereka menjual rumah ukuran di bawah 70 m2 dengan dua lantai dengan harga yang masih fantastis.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, para pengembang mulai melakukan apa yang disebut resizing produk. Selain untuk merespons permintaan rumah kelas menengah yang terus tinggi, juga untuk menghindari ketentuan Loan To Value (LTV) oleh Bank Indonesia.

"Rata-rata Serpong 36/90 harganya Rp 700-800 juta itu setahun yang lalu tapi jarang sekali, mereka lebih banyak menjual di atas tipe 45 ke atas. Tahun ini mulai 36/72, tapi lokasi di pinggir BSD," kata Ali kepada detikFinance, Rabu (9/10/2013)

Menurutnya, sudah menjadi rahasia umum harga rumah kelas atas di kawasan Serpong sebelumnya paling murah Rp 2 miliar. Namun kalangan pengembang, mulai berpikir ulang menghadapi perlambatan siklus properti tahun depan dengan lebih banyak menggenjot rumah kelas menengah rentang Rp 500 juta hingga Rp 900 juta dengan tipe lebih kecil.

"Ada penurunan ukuran atau resizing, untuk menghindari aturan LTV, juga mengincar konsumen di Serpong yang masih tinggi. Bahkan ada yang jual rumah dengan tipe 69, dipas-pasin, untuk menghindari LTV," jelas Ali.

Seperti diketahui mulai 1 September 2013 sudah berlaku peraturan Loan To Value (LTV) untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yaitu untuk rumah pertama, kedua dan ketiga masing-masing sebesar 70%, 60% dan 50%. Ketentuan ini berlaku untuk rumah di atas 70 m2.

Arti dari peraturan ini adalah untuk rumah pertama, pemberian kredit maksimal adalah 70% dari harga rumah. Artinya, nasabah harus menyiapkan uang muka atau Down Payment (DP) minimal 30%.

Untuk rumah kedua, uang muka yang perlu disiapkan lebih tinggi lagi, yaitu 40%. Karena kredit maksimal yang diberikan hanyalah 60% dari harga rumah.

Sementara untuk rumah ketiga dan seterusnya, bank hanya dapat memberikan kredit maksimal 50% dari harga rumah, sehingga nasabah perlu menyiapkan uang muka sebesar 50%. Peraturan ini berlaku baik untuk KPR maupun KPA.

BI menerapkan peraturan ini di antaranya untuk mengatur penyaluran kredit konsumsi, khususnya KPR. Apalagi dengan kondisi saat ini di mana harga properti terus naik tinggi dengan pergerakan yang tak wajar.
(hen/dru)
 
sumber: detik

Pasar Properti RI Masih Tumbuh di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Jakarta - Pasar properti dalam negeri tetap moncer meskipun kondisi perekonomian global belum membaik.

Managing Director Cushman & Wakefield David Cheadle mengatakan, selama semester I-2013, pasar perumahan Jabodetabek mencatat peningkatan dalam aktivitas penjualannya.

"Berdasarkan rata-rata angka unit rumah terjual per bulannya pada masing-masing perumahan, semua wilayah mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan," kata David saat acara konferensi pers Laporan Properti dari Cushman and Wakefield di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (17/10/2013).

David menyebutkan, pertumbuhan paling signifikan terjadi di Jakarta sebesar 12,1% dibandingkan dengan semester sebelumnya dari 5 unit per bulan menjadi 6 unit per bulan. Sementara itu, wilayah lainnya mengalami pertumbuhan di bawah 10%.

Secara umum, nilai rata-rata transaksi per perumahan di Jabodetabek pada semester I-2013 meningkat 6,9% dari semester sebelumnya menjadi Rp 151 miliar per bulan. Tangerang berkontribusi sebesar 53% dari nilai tersebut sedangkan Jakarta punya porsi terkecil yaitu sebesar 6%.

Rata-rata nilai transaksi bulanan per perumahan pada masing-masing area mengalami kenaikan seperti Jakarta yang naik 38,1% dari semester lalu menjadi Rp 9,3 miliar, Tangerang naik 6,8% menjadi Rp 80,3 miliar, Bogor-Depok naik 6,9% menjadi Rp 23,2 miliar, dan Bekasi naik 1,71% menjadi Rp 38,2 miliar.

Berbeda dengan semester-semester sebelumnya dimana pertumbuhan pasokan selalu lebih rendah daripada pertumbuhan permintaan, pertumbuhan pasokan pada semester I-2013 relatif sama dengan pertumbuhan permintaan sekitar 2% dari semester sebelumnya. Maka dari itu, tingkat penjualan keseluruhan stabil di 92,7%.

Rumah yang terbangun semakin banyak dihuni pada semester I-2013 terlihat dari meningkatnya angka hunian. Rata-rata angka hunian di Jabodetabek sedikit meningkat 0,4% dari semester sebelumnya menjadi 82,9%. Berdasarkan areanya, Bekasi memiliki angka hunian tertinggi 89,7%.

(drk/dru)
Sumber: detik

Harga Rumah Rp 900 Juta di Serpong Termasuk Murah

Jakarta - Rumah dijual seharga Rp 900 juta beberapa waktu lalu di kawasan Serpong langsung ludes dalam 2 jam saja. Hal ini dianggap wajar oleh konsultan properti.

Head of Markets Jones Lang LaSalle Angela Wibawa mengatakan tidak mengherankan jika saat ini ada harga rumah di bawah Rp 1 miliar di sekitar Jakarta termasuk di Serpong pasti akan diburu.

"Tidak mengherankan jika ada rumah di bawah Rp 1 miliar di Serpong atau disekitar Jakarta dijual pasti akan diburu," kata Angela ditemui di Kantor Jones Lang LaSalle, Stoke Exchage building Tower, Kamis (17/10/2013).

Menurut Angela saat ini sulit untuk menemukan rumah beserta tanah disekitar Jakarta dan penyanggah kota Jakarta dengan harga di bawah Rp 1 miliar.

"Sekarang ini sudah sulit cari rumah di bawah Rp 1 miliar didaerah sekitar Jakarta, apalagi seperti di Serpong, Alam Sutera dan lainnya, kalau ada yang jual Rp 900 juta itu masih sangat terjangkau," ungkapnya.

Angela mencontohkan seperti harga tanah di Serpong saat ini mencapai Rp 7 juta per meter2. "Kalau di Serpong harga tanah sekarang Rp 7 juta per m2 kalau 100 m2 sudah Rp 700 juta sendiri, belum lagi harga bangunan konstruksinya yang saat ini Rp 3 juta per meter2, ya tentu kalau harga rumah plus tanah hanya Rp 900 juta ya terjangkau," tutupnya.
(rrd/dru)
 
Sumber: detik

Pemerintah Siapkan Rp 275 Miliar Bangun 4.400 Rumah di NTT

Jakarta - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) telah melakukan pembahasan dengan Komisi V DPR RI perihal Usulan Direktif Presiden di Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur) dan Revisi APBN 2013.

Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat (Sesmenpera), Rildo Ananda Anwar, dalam pemaparannya mengatakan Program Penyediaan Rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Provinsi NTT merupakan program Direktif Presiden.

"Program Direktif ini diperuntukan bagi warga eks pengungsi Timor Timur dan warga lokal," ujar Rildo seperti dikutip, Minggu (13/10/2013).

Lebih jauh Sesmenpera menjelaskan untuk tahun 2014, Kemenpera akan membangun 4.406 unit rumah khusus di NTT dengan anggaran Rp 275,112 miliar.

"Pembangunan ini disesuaikan dengan hasil pendataan BPS terkait dengan kebutuhan rumah untuk warga eks pengungsi Timor Timur," tambah Rildo.

Selain pembangunan Rumah Khusus, Kemenpera juga mengusulkan kebutuhan anggaran tahun 2014 untuk pengadaan tanah seluas 174,54 Ha di NTT dengan anggaran sebesar Rp 53,317 miliar.

Dalam kesempatan yang dimaksud, anggota Komisi V DPR RI, Arwani Thomafi mengingatkan Kemenpera agar dapat segera menyelesaikan masalah perumahan dari tahun ke tahun.

"Saya kira perlu dipertegas program di NTT, sampai kapan targetnya dan pemerintah pusat perlu juga untuk melakukan koordinasi yang baik dengan pemerintah daerah maupun lintas sektoral," papar Arwani.

Sementara itu, Fary Djemi Francis yang juga anggota Komisi V DPR RI, meminta Kemenpera untuk menyelesaikan Direktif Presiden yang belum tuntas.

"Rumah-rumah yang dulu dibangun di NTT dan belum selesai pembangunannya atau yang sekarang baru jadi rangka besi agar diselesaikan Kemenpera," tutur Fary.
(dru/dru)
 
sumber: detik

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cari Properti

Custom Search

Ir. Andreas Siregar

Konsultan Properti

Pendiri AB Property

Tenaga Pengajar pada

PANANGIAN SCHOOL OF PROPERTY

Follow Twitter @penilaipublik untuk Tips & Konsultasi Properti

Aditya Budi Setyawan

Pendiri AB Property (Partner) ✉absetyawanwassuccess@live.com

☎ 0878787 702 99

085 7755 1819 5

0852 2120 3653

021 444 300 33 (flexi)

BB : 31 789 C84

Facebook Twitter MySpace Blogger Google Talk absetyawan Y! messenger adityabsetyawan
My QR VCard

Cari