AB Property

AB Property didirikan untuk menjawab kebutuhan pasar terhadap solusi tepat dan terpadu di bidang property.


Rabu, 09 Mei 2012

Bupati Banyuwangi "disemprot" developer karena tak mau beri ijin dirikan Mall

Kebijakan Bupati Banyuwangi melarang mal atau pusat perbelanjaan berdiri di wilayahnya mengundang tanggapan yang pedas dari pengembang pusat perbelanjaan (mal). Para pengembang mal meminta pemerintah daerah yang melarang mal berdiri perlu pencerahan.

"Kayaknya bupati itu perlu pencerahan, nggak pernah keliling dia," kata Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan kepada detikFinance, Selasa (8/5/12).

Stefanus pemerintah daerah tak ada alasan melarang sebuah mal berdiri sekalipun alasanya untuk melindungi pedagang kecuk. Bagi Stefanus, pedagang kecil bukan lah suatu alasan untuk melarang berdirinya sebuah mal di suatu daerah.

"Justru pedagang kecil itu kuncinya pusat perbelanjaan itu sendiri, kita tidak pernah bersaing dengan pedagang kecil," tegasnya.

Ia menuturkan pembangunan sebuah mal di suatu daerah justru dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Adanya pembangunan mal, otomatis di daerah tersebut akan ada geliat bisnis baru seperti pembangunan kos-kosan, penyerapan tenaga kerja dan lahan pekerjaan lain.

"Dan juga mal itu justru menghemat listrik, salah itu dirjen yang bilang mal itu bisa menyebabkan pemborosan listrik. Sekarang kalau orang ribuan datang ke mal, listrik di rumahnya kan mereka matiin," paparnya.

Stefanus juga mengatakan, ada kesalahpahaman dalam mengartikan mal dan pasar modern.

"Ada salah kaprah, pusat perbelanjaan itu bukan pasar modern seperti carrefour, matahari, justru di mal itu kita taruh pedagang kecil di depan, UMKM dan sejenisnya, kalau Carrefour, Matahari itu kita taruh diujung," ungkap Stefanus.

Hingga kini Stefanus mengaku belum mengetahui daerah mana saja, pemerintah daerahnya melarang mal berdiri.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas melarang mal masuk ke Kabupaten Banyuwangi, alasannya untuk melindungi pedagang kecil.

"Untuk memberikan perlindungan pedagang kecil yang jualan dipinggir jalan yang omzetnya semakin berkurang, saya tidak mengizinkan mall masuk sebelum IPM kita 7,3, sekarang 7,208," tutur Anas kemarin.

detik.com

Apartement segmen menengah bawah di pinggir kota laris-manis

Fenomena menjamurnya apartemen sederhana atau rusunami di pinggiran kota Jakarta semakin membuktikan kebutuhan hunian di Jakarta sangat tinggi. Apartemen pinggir kota seperti Ciputat, Bekasi, Tanjung Barat, Lenteng Agung menjadi incaran kalangan kelas menengah bawah.

"Masyarakat yang berasal dari kalangan menengah ke bawah sebenarnya menjadi target pasar yang cukup besar bagi pengembang yang membangun Rusunami. Hal itu juga terlihat dari banyaknya masyarakat yang ingin membeli meskipun Rusun tersebut berada di pinggir kota," kata Asisten Deputi Evaluasi Perumahan Formal Deputi Bidang Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat, Bernaldy seperti dikutip dari situs Kemenpera, Selasa (8/5/2012)

Menurutnya pembangunan apartemen sederhana merupakan salah satu solusi atas kebutuhan hunian bagi masyarakat. Apalagi saat ini harga tanah di daerah terus meningkat setiap tahunnya.

Dikatakannya segmen apartemen kelas ini sejatinya memiliki pangsa pasar yang cukup besar. Oleh karena itu, pihaknya berharap adanya peran serta aktif dari para pengembang untuk ikut berpartsisipasi dalam pembangunan hunian vertikal ini.

Salah satu apartemen pinggiran Jakarta yang kini sedang dibangun adalah apartemen LA City. Apartemen LA City ini diharapkan dapat menjadi ikon pembangunan apartemen khususnya di kawasan Lenteng Agung.

"Jakarta Selatan merupakan salah satu daerah padat penduduk sehingga pembangunan Rusun LA City ini akan sangat membantu masyarakat," kata Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Selatan Usmayadi.

Selasa, 08 Mei 2012

Harga sewa kantor di Jakarta tertinggi se Asia-Pasifik pada kuartal I 2012

Jakarta kembali memimpin pertumbuhan sewa kantor tertinggi, dari 27 pasar perkantoran kota-kota besar se-Asia Pasifik pada kuartal I/2012.
Laporan terbaru perusahaan konsultan properti Jones Lang LaSalle menyebutkan pertumbuhan tarif sewa kantor di Jakarta pada kuartal I/2012 mencapai 7,9% dibandingkan rata-rata tarif sewa kuartal sebelumnya. Angka ini merupakan pertumbuhan tertinggi dari 27 kota-kota besar di Asia Pasifik yang disurvei.
Pasar perkantoran kedua dengan pertumbuhan sewa tertinggi yaitu Beijing, tercatat 5,3%. Dari 27 pasar perkantoran Asia Pasifik, 13 diantaranya menunjukan pertumbuhan positif pada kuartal I/2012 dibandingkan kuartal IV/2011. Kota-kota yang mengalami pertumbuhan positif itu diantaranya Chennai (2,7%), Bangalore (2,3%), Brisbane (3,6%), Perth (4,1%),  Manila (1%), dan Sydney (0,8%).
Adapun pasar sewa di tiga kota stabil yaitu di Mumbai, Delhi, dan Melbourne. Pasar sewa kantor di 11 kota yang justru mengalami penurunan. Umumnya merupakan kota-kota yang selama ini menjadi pusat bisnis di Asia Pasifik. Pasar kantor yang mengalami kontraksi yaitu  Hong Kong (-6,3%), Singapura (-5,2%), Taipei (-2,3%), dan Seoul (-1,6%).
Jane Murray, Kepala Riset Asia Pasifik Jones Lang LaSalle, mengatakan ketidakastian kondisi ekonomi global yang dipicu oleh krisis di Uni Eropa berimbas pada menurunnya permintaan tambahan kantor baru bagi perusahan-perusahaan multinasional . Meskipun kondisi ekonomi Asia Pasifik masih positif, namun mayoritas perusahaan memilih bersikap menunggu selama awal 2012.
“Pasar sewa kantor pada tahun ini juga cenderung akan menurun dibandingkan 2011,” katanya dalam riset terbaru yang diterima Bisnis, hari ini (4/5).
Todd Lauchlan, Kepala Perwakilan Jones Lang LaSalle Indonesia, mengatakan permintaan penambahan kantor baru pada tahun ini di Jakarta baik di kawasan pusat bisnis (CBD) maupaun di luar CBD tetap kuat. Kondisi ini bisa dilihat dari proyek-proyek perkantoran baru degan kualitas premium tingkat okupansinya sudah mencapai 100%. (arh)
bisnis.com

KPR Bank Syari'ah Mandiri ikuti aturan LTV 70%

Manajemen Bank Mandiri Syariah akan mengikuti aturan loan to value bank konvensional dalam hal kredit pemilikan rumah (KPR) dan kendaraan bermotor. Termasuk juga dalam hal penentuan besarnya down payment (uang muka). 
Sebagai bank syariah, Bank Mandiri Syariah tidak wajib menerapkan aturan tersebut karena itu hanya untuk bank konvensional. Namun, bank tersebut akan tetap mengikutinya.

"Yang penting equal treatment termasuk juga terkait aturan down payment tersebut. Kita juga ikut menyamakan untuk menjaga risk management," ujar Direktur Utama PT Bank Mandiri Syariah Yuslam Fauzi, di sela acara 2nd Seminar International on Islamic Finance di Bandung, Senin (7/5/2012).

Yuslam menambahkan, pihaknya pun tak aji mumpung meskipun aturan tersebut belum diterapkan untuk perbankan syariah. “Bank konvensional dibatasi uang mukanya minimal 30%, dan bank syariah tidak dikenakan aturan itu. Kami tidak melihat seperti itu," tutur Yuslam.

Yuslam melihat aturan tersebut merupakan hal positif bagi perbankan. Hal ini mendorong sistem risiko di perbankan berjalan baik agar tidak terjadi bubble di sektor konsumen.

Sekedar informasi, per 15 Maret 2012, Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan Surat Edaran No.14/10/DPNP pada 15 Maret 2012, yang mengharuskan down payment (DP) minimal KPR sebesar 30% untuk tipe rumah di atas 70 m2, yang masa berlakunya efektif pada 15 Juni 2012. Aturan tersebut hanya mengatur perbankan konvensional, dan tidak untuk perbankan syariah. [tjs]


Perbankan Ramai-ramai Tawarkan KPR di Atas 15 Tahun

Setelah skema baru rumah subsidi digulirkan, baik perbankan maupun pengembang mengaku mengalami kesulitan dalam realisasinya.

Perbankan mendapat kesulitan dalam menyalurkan pembiayaan untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) karena pasokan rumah dengan skema FLPP terbatas.

Sementara itu, pengembang mengaku syarat baru KPR FLPP cukup memberatkan untuk realisasi. Syarat memberatkan tersebut adalah pembangunan rumah dengan tipe minimal 36 meter persegi dengan harga jual Rp 70 juta.

Karena ingin tetap bergelut dalam bisnis perumahan, beberapa bank tidak kehabisan ide dengan menggulirkan variasi KPR nonsubsidi. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), contohnya, mengeluarkan KPR berbunga tetap 7,49 persen fixed dua tahun, kemudian sesudahnya menggunakan suku bunga komersial hingga tenor kredit 25 tahun. Variasi ini untuk nilai kredit di atas Rp 250 juta.

Direktur Mortgage and Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara Tbk Irman Alvian Zahiruddin, dalam sebuah kesempatan, mengatakan, BTN dikenal sebagai rajanya KPR subsidi. Kini, pihaknya berusaha membiasakan diri untuk tidak bergantung pada bisnis KPR bersubsidi.

"Mulai tahun 2008-2011, BTN menjadi rajanya KPR subsidi, tetapi tahun 2012 ini ceritanya berubah. Meski KPR nonsubsidi ada, bank tetap berusaha menjalankan program pembiayaan subsidi," ujarnya.

Sebelumnya, pengembang yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) bekerja sama dengan Bank Negara Indonesia (BNI) menggulirkan KPR Griya Idaman.

Menurut Setyo Maharso, Ketua Umum DPP REI, produk ini menitikberatkan pada besaran angsuran yang dapat diserap masyarakat. Dengan tenor 20 tahun, sasaran pembiayaan ini ditujukan untuk konsumen yang membeli rumah di bawah tipe 36 meter persegi atau luas 36 dengan harga di atas Rp 70 juta sampai Rp 200 juta.

Adapun untuk uang mukanya ditetapkan sebesar 10 persen dari nilai kredit. Pada lima tahun pertama, cicilan KPR Griya Idaman ini sebesar Rp 600.000, sedangkan di tahun keenam sampai kesembilan cicilan per tahun naik 4 persen.


Penjualan Rumah Tipe 36 di Jabar Turun Drastis

Ilustrasi
Sejak Januari sampai Maret tahun ini, penjualan rumah tipe 36 di Jawa Barat mengalami penurunan darastis. Selama kwartal pertama 2012 lalu, hanya sebanyak 337 unit. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, jumlah unit yang terjual mencapai ribuan.

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jabar, Yana Mulyana mengatakan, kalau penjualan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sangat sedikit. Dari 337 unit yang terjual, merupakan stok lama dari para pengembang.

"Teman-teman bisa jual yang stok lama dan rumah lama. Kalau baru, harganya susah apalagi dengan harga Rp 70 juta. Tahun lalu penjualan ribuan unit. Para pengembang pusing sendiri karena tidak terserap," katanya ketika dihubungi Tribun, Senin (7/5/2012) pagi.

Penjualan rumah untuk tipe 36 di Jabar hanya mencapai 337 unit sejak Januari sampai Maret tahun ini. Penjualan paling banyak terjadi di Subang. Sedangkan daerah lainnya, seperti Cirebon dan Kabupaten Bandung Barat, tidak ada penjualan sama sekali.

"Turunnya penjualan karena disebabkan yang mendapat subsidi di tipe 36 dengan harga Rp 70 juta. Turunnya besar sekali. Kalau di Jabar, tidak mungkin harga segitu," kata Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jabar, Yana Mulyana ketika dihubungi Tribun, Senin (7/5/2012) pagi.

Dia menambahkan, sejumlah wilayah di Jabar yang tidak ada penjualan rumah tipe 36 seperti Karawang, Sukabumi, Kabupaten Bandung Barat dan Cirebon

Senin, 07 Mei 2012

Lokasi rumah murah yang ditawarkan di REI Expo 2012

Kalangan pengembang perumahan siap membangun dan memasarkan rumah murah yang digagas oleh pemerintah. Lokasinya tersebar di beberapa wilayah antaralain Cikarang, Pasar Kemis dan Cibitung.

Menurut Eva, tenaga pemasaran pengembang rumah murah dari PT Kiranasurya Perkasa, setidaknya ada 5 lokasi perumahan murah untuk penduduk Jabodetabek yang dikembangkan oleh perseroan.

"Kita ada Kirana Cibitung, Firdaus Residence di Cibarusa Cikarang, Mutiara Gading City di Cikarang, Grand Cikarang City di wilayah Lemah Abang Cikarang kota, Griya Tangerang Asri di Pasar Kemis Tangerang," ungkapnya kepada detikFinance disela-sela pameran properti di JCC, Senin (7/5/2012).

Harga yang ditiwarkan berbeda-beda untuk setiap lokasi rumah, menurut Eva harga yang ditawarkan berkisar Rp 80 juta hingga Rp 105 juta untuk rumah tipe 36. Selain itu spesifikasi bangunan yang ditawarkan untuk rumah murah ini pun cukup baik.

"Pakai batu kali slop beton bertulang untuk pondasinya kalau untuk dindingnya kita pakai batako pres sudah diplester sama di cat. Untuk lantainya kita keramik kalau plafonnya pakai rangkap kayu kelas 3, dan untuk kusennya pakai kayu kelas 3. Sedangkan atapnya rangka kayu dan fasilitas jalannya pakai semen cor bukan pakai aspal," jelas Eva

Pihaknya telah mengembangkan dua perumahan murah yang berlokasi di Bekasi yaitu Kirana Cibitung dan Kirana Cikarang.

"Kalau saya ada di Cibitung sama Cikarang. Kalau kita masih harga jual Rp 105an jutaan dengan DP ada yang ada yang 6 juta dan ada yang 1 juta, angsurannya Rp 892.604 dengan bank BNI, dan ini masuk subsidi dan subsidinya di bunga bank aja. Untuk bunganya sendiri 7,25% (FLPP)," tutupnya.

Bagi anda yang masih penasaran dan ingin mencari info lebih lanjut, bisa datang ke Pameran properti REI Expo 2012 di JCC digelar mulai tanggal 5-13 Mei 2012. Pameran ini mencakup 137 lokasi proyek properti, dan melibatkan 120 pengembang di seluruh Indonesia.

Rumah Rp62juta masih ada di Tangerang

Memiliki rumah berharga murah di wilayah Jabodetabek ternyata bukan menjadi sesuatu hal yang mustahil. Pada acara pameran properti REI Expo 2012 di JCC, terdapat sebuah pengembang yang menawarkan rumah murah seharga Rp 62 Juta. Dimana lokasinya?

Menurut salah seorang karyawan pengembang PT Karsa Agung, Arnold mengatakan pengembangnya menawarkan rumah murah di kawasan Tangerang seharga Rp 62 juta dengan tipe 23/60.

"Kalau di kita 36/72 dari 80-90 juta, yang tipe 23/60 harganya Rp 65 juta, itu lokasinya di Tangerang dengan pengembang PT Karsa Agung," ungkapnya kepada detikFinance, Senin (7/5/2012).

Untuk uang muka yang ditawarkan juga sangat terjangkau yakni sebesar Rp 1 juta dengan cicilan sebesar Rp 600.000-an selama 20 tahun dengan bungan 7,25% untuk tipe 23/60. Selain menawarkan tipe rumah tersebut, pengembang perumahan Griya Tangerang Asri ini juga menawarkan berbagai tipe rumah murah yaitu tipe 30/72 seharga Rp 81 juta dan tipe 36/70 seharga Rp 90 juta.

Arnold juga mengatakan kebanyakan para calon pembeli rumah murah ini berasal dari kalangan profesi karyawan dan buruh. "Kalau ini kalangan yang masih muda dan pekerjaannya standar lah, biasanya karyawan dan buruh," tutupnya.

detik.com

Setyo Maharso: 40% rumah di Bali dimiliki orang asing walau payung hukumnya tidak ada

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menolak usulan pemerintah agar orang asing punya hak kepemilikan properti di Indonesia. Namun kenyataannya 40% properti di Bali dimiliki oleh orang asing.

Ketua Asosiasi Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan, undang-undang kepemilikan properti untuk orang asing tidak ada, namun di Bali 30-40% dikuasai asing tanpa bisa dibuktikan legalisasinya.

"Sampai sekarang orang asing tidak boleh miliki properti di Indonesia, orang asing hanya punya hak sewa dan hak pakai, tetapi di Bali sekitar 30%-40% dikuasasi oleh asing tanpa bisa dibuktikan asas legalitasnya," ujar Setyo ketika ditemui pada Pameran REI Expo 2012, di Jakarta Convention Center, Sabtu (5/5/2012).

Menurut Setyo, banyaknya properti yang dikuasai oleh asing karena orang asing tersebut kawin dengan orang Indonesia khususnya orang asal Bali.

"Dia (orang asing) kawin dengan orang Bali, jadi beli rumah, ini yang sulit, dan pembuktian legalitasnya juga tidak ada, dan pada dasarnya orang asing tidak boleh miliki properti," ujar Setyo.

Kondisi ini seharusnya harus diperbaiki, jangan sampai banyak warga Indonesia yang masih banyak membutuhkan rumah namum di Indonesia properti banyak dimiliki oleh asing.

"Ini yang harus kita pagari, jangan sampai properti di Indonesia juga dikuasasi oleh asing, asing hanya sewa, kalau memiliki tidak boleh," tukasnya.

Sebelumnya pemerintah ingin memberikan kesempatan kepada warga asing untuk memiliki properti atau hunian hak milik dan tidak hanya sekedar sewa, namun keinginan tersebut kandas karena DPR menolak usulan tersebut dan menegaskan dalam UU Perumahan dan Kawasan Pemukiman orang asing tidak boleh memiliki properti atas hak milik.

detik.com

Rumah Rp70juta dijual di REI Expo

Kebutuhan akan rumah di Indonesia sangat tinggi, bahkan hasil Sensus Nasional Indonesia menyatakan kekurangan pasokan rumah (backlog) di Indonesia mencapai 13 juta unit rumah. Bagi yang berminat beli rumah murah Rp 70-Rp 100 juta, datang saja ke REI Expo di JCC, Senayan 5-12 Mei 2012.

"Pameran ini terkesan mewah kalau dilihat dari stand-stand-nya yang bagus. Tapi di sini banyak juga pengembang yang jual rumah Rp 70-Rp 100 juta untuk rumah sejahtera tapak," kata Ketua Asosiasi Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso, ketika ditemui di REI Expo, JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (5/5/2012).

Menurut Setyo, dari 3.000 anggota REI, sebanyak 60% mengerjakan rumah sederhana tapak dengan harga mulai Rp 70-Rp 100 juta.

"Kita juga terus berkomitmen untuk menyediakan rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), mengurangi backlog yang hampir tiap tahun sebesar 700.000 unit," ujar Setyo.

Ke depan Setyo berencana untuk mengadakan pameran khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadi fokus Kementerian Perumahan Rakyat.

Di tempat yang sama, Asisten Deputi Perumahan Formal Kemenpera, Lukman Hakim, mengatakan kebutuhan akan rumah sangat tinggi. Lewat dukungan antara pemerintah dan pengembang, kebutuhan rumah yang sangat tinggi bisa teratasi sedikit demi sedikit.

"Kami mendukung jika nantinya ada suatu pameran khusus rumah untuk MBR. Tapi sebenarnya kalau untuk rumah sejahtera tapak yang harganya sekitar Rp 70-Rp 100 juta, tanpa pameran atau tanpa dipromosikan pun sangat laku sekali. Bahkan pengembangnya baru ajukan izin saja sudah habis terjual padahal belum dibangun, ini artinya kebutuhan akan rumah saat ini sangat tinggi sekali," tukas Lukman.

Ditambahkan Setyo, selain pameran kali ini, pihaknya pada Oktober 2012 nanti akan menggeral pameran properti di 24 kota serentak dan rencananya juga akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhonoyo.

detik.com

http://serbaserbiproperti-abproperty.blogspot.com/2012/05/rumah-rp70juta-dijual-di-rei-expo.html

Djan Faridz: Demi janji SBY pada buruh, Kemenpera tahun ini siapkan Rp200M untuk bangun rumah murah

Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) siap menggelontorkan Rp 200 miliar untuk membangun rumah sakit untuk buruh tahun ini. Pembangunan RS ini merupakan bagian dari realisasi janji Presiden SBY untuk kesejahteraan para buruh Indonesia.

Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz menyatakan pihaknya siap membangun RS di Jabodetabek dengan anggaran Rp 200 miliar. Dari anggaran tersebut, Djan memperkirakan sekitar 5 buah RS bisa dibangun pada tahun ini.

"RS itu Jabodetabek anggarannya Rp 200 miliar, untuk tahun ini. Tadinya 3, tapi dengan anggaran segitu, mungkin bisa 5 RS, di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, kalau 5 ideal " ujar Djan saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (4/5/2012).

Djan menyatakan pembangunan RS tersebut akan dimulai di Jakarta untuk pertama kali. Namun, saat ini proses tersebut masih pada tahap perencanaan untuk menetapkan lahan. "Ini kita lagi panggil bupati-bupati," ujarnya.

RS tersebut disediakan bersama fasilitasnya, namun minus fasilitas melahirkan. Hal yang sangat diperhatikan dalam pembangunan RS ini adalah fasilitas Unit Gawat Darurat (UGD).

"RS-nya besar, cuma tidak ada untuk orang hamil karena buruh kan tidak hamil. Buruh perempuan masa hamil lagi kerja?" ujarnya.

"Fasilitas lengkap, semua ada. tapi terutama yang paling besar unit gawat darurat untuk kecelakaan karena buruh kan yang paling problemnya itu di kecelakaan, itu yang kita besarkan fasilitas itu," tambahnya.

Nantinya, Djan menyatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Jamsostek untuk memberikan anggaran perawatan bagi buruh.

"Iya kerjasama dengan Jamsostek, nanti RS itu hidup dari iuran Jamsostek. Kan buruh dapat jaminan dari Jamsostek. pengobatan, biaya pengobatan itu dibayarkan setiap bulan ke rumah sakit, biayanya lump sum. Anggarannya ada tapi ini yang bapak presiden sudah perintahkan untuk segera dibangun, ini lagi didesain," pungkasnya.

detik.com



http://serbaserbiproperti-abproperty.blogspot.com/2012/05/djan-faridz-demi-janji-sby-pada-buruh.html

Harga tanah di Cipete-Jaksel banyak yang melonjak hingga 15% akibat dibangunnya flyover Antasari-Blok M

Harga tanah di sekitar lokasi pembangunan flyover atau jalan layang non tol Pangeran Antasari-Blok M, Jakarta Selatan terus merangkak naik hingga 15%. Namun ada beberapa titik justru harga tanahnya turun karena berdekatan dengan tiang beton proyek flyover.

Berdasarkan penelusuran detikFinance, di wilayah itu terjadi kenaikan harga tanah. Salah satu warga di Kelurahan Cipete Utara, mengatakan harga tanah di sekitar proyek flyover Antasari naik sekitar Rp 1 juta/m2 atau sekitar 15% dalam satu tahun.

"Tahun sekarang ada kenaikan, tahun lalu Rp 7 juta dan sekarang Rp 8 juta dari NJOP (nilai jual objek pajak)," ungkap sumber itu kepada detikFinance, Minggu (6/5/2012).

Sementara salah satu petugas kelurahan Cipete Utara mengungkapkan adanya proyek flyover sepanjang 4,85 Km itu telah menaikkan nilai tanah di sekitar lokasi proyek. Petugas itu enggan menyebut besarnya kenaikan harga tanah, karena tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli.

"Kalau adanya proyek ini jelas ada kenaikan nilai tanah dengan sendirinya," sambungnya.

Sementara itu warga lain di sekitar lokasi proyek flyover Antasari malah mengeluhkan pembangunan proyek ini. Alasannya karena telah membuat kemacetan parah dan sedikit menurunkan harga jual tanah pada lokasi yang ada tiang pancang proyek flyover Antasari.

"Harga tanah pas adanya tiang turun," ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Secara terpisah, harga tanah di lokasi pembangun Proyek Mass Rapid Transport (MRT) tahap 1 koriodor Selatan-Utara tepatnya disekitar lokasi stadion Lebak Bulus Jakarta Selatan masih belum ada tanda-tanda kenaikan.

Menurut salah ketua RT di kelurahan Lebak Bulus, M Yasin mengatakan kalau harga tanah di sekitar lokasi proyek MRT masih tetap di kisaran Rp 5 juta/m2. "Disini harganya masih biasa-biasa saja," kata Yasin.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cari Properti

Custom Search

Ir. Andreas Siregar

Konsultan Properti

Pendiri AB Property

Tenaga Pengajar pada

PANANGIAN SCHOOL OF PROPERTY

Follow Twitter @penilaipublik untuk Tips & Konsultasi Properti

Aditya Budi Setyawan

Pendiri AB Property (Partner) ✉absetyawanwassuccess@live.com

☎ 0878787 702 99

085 7755 1819 5

0852 2120 3653

021 444 300 33 (flexi)

BB : 31 789 C84

Facebook Twitter MySpace Blogger Google Talk absetyawan Y! messenger adityabsetyawan
My QR VCard

Cari